Sabtu, 12 Maret 2011

Surat Buat Pemerhati Sastra; Seni

Islam Crescent Moon




Ketika tegun terhenti di ujung aspal
sua terlambat di rumah masa
bahumu yang dulu kokoh kini bersalam kalam
jambul tegak goda pesona
kini tunduk mencium sajadah
semangat adalah nyawa pasrah dawai hati,
nyanyian rindu Yang Mahapengasih

Lipatan-lipatan kian membengkak
bayang ragu benteng buatan
ketika sanubari memancar
kenapa menang untuk yang bukan apa-apa
mereka yang berkampak bibir
kau yang memulai kau yang mengakhiri,
pemilik sesungguhnya

Wahai Sang Seniman
tegakkan leher tinggi-tinggi
jangan tinggikan hati
lancarkan darah kata
sambungkan untaian makna
julurkan syair-syair damai pada gores kearifan,
di kalam merdeka

Ku lihat dendam menyimpan di mata teduhmu,
pada siapa kan dilabuhkan
ku lihat amarah bergelora di semangat,
pada siapa kan ditambat
ku lihat harap mengungkung hidup
pada siapa bertanya,
ku lihat geram tak tertahan,
sinyal-sinyal rindu
detak-detak harap
senandung amal,
di genggammu

Jangan ragu jangan bimbang
mulaimu di jalan setapak
kini jalan-jalan lempang bercabang
wadah jualan kelana pikir
menanam buahbuah berbuah buah,
ladang amalmu

Ikhlaskan lupa pada masa
waktu irama hidup,
ada yang terbungkuk
ada yang terbatuk,
ada yang gila
ada yang durjana,
bahkan dimakan nafas jantung
saat tongkat kembali pada pemula,
pasrah dalam tabah obat jiwa

Lihatlah!
matamu bersinar jenaka
telinga setajam belati sukma
lidah setia mencium aroma pohon sawo
batuk-batuk dada tidak berkhabar duka,
rahmat Yang Mahakuasa

Kalau kau menamam kata
kata menjadi kalimat
kalimat membentuk paragraf
paragraf jembatan halaman
buku-buku menjadi lautan tak bertepi,
itulah singgasanamu

Jangan gadaikan mutiara kalam
jangan hinakan diri pada prestasi
jangan biarkan tanam dituai,
buat mereka yang bersorak di kuburan mulut berbusa serapah

Ku tahu, wahai Seniman Tua
asih asah asuh menjadi percuma
ketika dada-dada mata-mata jiwa-jiwa membara
menatap curiga seperti semut merah di sekolah   

kau boleh berharap   
harapan milik semua orang   
kau boleh menjadi guru   
tidak semua orang menjadi murid,   
jadilah guru dirimu

Guru terbaik, wahai Sang Seniman
ketika kata-kata jadi bermakna
ketika kalimat-kalimat bermanfaat
ketika paragraf-paragraf membawa harap
ketika halaman-halaman mengirim nyaman
ketika buku-buku mengobat kalbu
tempatmu bersila,
berbantal berkah

Wahai Seniman Tua Berbaju Muda
umur boleh melebihi Rasulullah
semangat obat umurmenuju jiwa merdeka
kemerdekaan memberi
guru rindumu
bukan peminta,
seperti pengemis palsu

Camkan, wahai Pak Seniman
ketika rongga dada berguncang tenang
khabar sorga mempesona
enyahkan tawar-tawar petaka dunia
titian lurus janji hikmah,
peganglah seerat adonan baja

Tumpahkan bisa-bisa
cerita dungu kisah gembira
madah kelana cerita sendu
cerita kasih kisah petaka
angan-angan kelana
ziarah bathin kemana-mana,
antara ada dan tiada

Kisahkan madah-madah sempurna
pungut pagut Asma Allah
benamkan di tali jiwa
sambungkan pada cermin berkaca
panah diantar mata ke kembang suka
lagu-lagu anak bencana
syair-syair pelamun dunia
ujar-ujar kelana rasa
senandung pucuk jam
budi depan rumah darah
tumpah ruah,
nyawamu

Wahai Sang Seniman,
waktu bukanlah jarak
ketika tegun menegur
enam dasawarsa bulan sekejab
sedetik berhimpit dua belas purnama
asal ... mulut di penjara
asal ... belati untuk petuah
jari jemari menari lantunan mata hati,
pada untaian bait-bait

Waktu bukanlah khianat
penghianatlah yang menghianati waktu
apa bedanya tidur dengan terjaga
tidak ada batas antara renung dan memaki
ketawa dan tetesan air mata pada satu nampan
pekak bodoh,
pintar cerdik
tertuang nyata

Buang jauh-jauh nyaring teriak,
berkah tak bermuara
di lintasan waktu makna tidak mendenda
bukan jarak pembeda
apalagi pembenar alfa, penangkis kosong karya
segerobak gombal apalogia,
sia-sia

Kearifan diri, wahai Kawan Baru
ketika mampu membuang kopi pahit
ketika kenang indah pandang mata
pada cerita usang
pada asih
pada luapan niat suci
pada tangan yang tak membesi
pada hardik yang tidak menghantar ngeri
saat barisan kacamata menatap sukma
memamah gelombang semburat jaga,
dari malam renung

Hidup tidak pernah dihentikan waktu
waktu tanda pembatas
bukan hakim kematian
hidup hanya bermula
tidak pernah berakhir
sampai ke rumah-Nya,
tujuan hakiki

Selamat berjaya,
dunia tak pernah berhenti
seperti ujung penamu,
mohon maaf lahir bathin,
minal aizin wal faizin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar